Showing posts with label Nereh. Show all posts
Showing posts with label Nereh. Show all posts



Sudah lama tidak mengulang kaji (ilmu) bahasa Indonesia, setelah menyelesaikan kuliah pada 2017 lalu. Banyak yang terlupakan, sehingga dibutuhkan belajar kembali. 

Nah, beruntung Balai Bahasa Sumatera Barat bekerjasama dengan Komunitas Literasi Bukittinggi menggelar Penyuluhan bahasa media luar ruangan di SD 02 Percontohan Bukittinggi.

Kesempatan ini tidak saya abaikan dan bergegaslah meregistrasi pendaftaran pagi itu. Sampai dilokasi saya melihat peserta belum banyak yang hadir. Setelah waktu masuk, saya dan teman -teman bergegas masuk. 

Pada penyuluhan ini, pemeteri mengulas tentang tanda baca dan sebagainya, kamipun menyimak dengan hikmat. 

Akhir 2018 saya ditugaskan di Bukittinggi oleh TVRI Sumatera Barat. Di tanah kelahiran Bung Hatta dan  Rohana Kudus ini saya banyak belajar hal tentang jurnalistik. Meski saya lulusan Komunikasi Penyiaran Islam ( broadcasting) tidak membuat berhenti terus belajar.

Banyak hal  saya dapatkan selama bertugas di Bukittinggi. Salah satunya tentang profesi jurnalis yang kenal banyak orang serta sahabat. Bagi saya sahabat memang paling berhaga  untuk menjadi saksi perjalan hidup dan saling mengingatkan.

Salah satu kabar sahabat membuat saya jantung berdebar kencang tepat di hari pahlawan ini, yaitu  kabar duka dari grup whatsapp.  Kabar itu saya dapatkan saat akan  shalat Shubuh. Bahwa hari itu, dimana sahabat saya dan sering menjadi narasumber terkait narkotika. Ia, AKP. Pradipta Putra Pratama, Kasat Narkoba Polres Bukittinggi, telah berpulang di Rumah Sakit Yarsi Bukittinggi.

Kabar paling menakutkan yang saya baca pada 11 November 2019 ini. Namun saya harus mencoba ikhlas.

Almarhum Pradipta, adalah sosok anggota Polri yang suka bergaul dan suka bercanda. Sahabat saya ini, sebelumnya kepulanganya saya dan teman-teman jurnalis lainnya akan mewawancara dia,  terkait penangkapan empat tersangka pengedar narkotika di Padang Luar Agam.

Namun kehendak yang Maha Kuasa, Ia inginkan untuk penuhi janji. Selamat pulang sahabat, semoga husnul khatima dan tenang di surga sana. Engkau lebih merindui dan mencintai Tuhanmu, sehingga pulang dengan begitu cepat. 

Sebelum dibawah ke rumah sakit Ibnu Sina Yarsi Bukittinggi, almarhum merasakan sakit pada perut dan dada. Sampai dirumah sakit sekitar pukul 18.30, almarhum langsung dibawa keruangan UGD. Sekitar pukul 00. 30 Wib, dan diberangkat ke Bekasi kampung halaman sekitar pukul 06. 30 dari Polres Bukittinggi.  Sosok yang baik hati ini, meninggalkan istri dan satu orang putrinya di hari ke 10 tahun pernikahannya.

Dari keterangan dokter, almarhum bermasalah pada lambung dan merasa sakit pada dadanya, hingga tak sadarkan diri hingga meninggal dunia.


Kepergian Kasat Narkoba yang berprestasi ini tidak hanya membuat saya kaget. Semua karib kerabat serta warga Bukittinggi merasa kehilanngannya.

Saya tidak banyak berbuat apa, bahkan tidak juga tidak berkesempatan menshalatkanya dan melihat ke pemakamanmu, namun doa-doa akan terus mengalir.  Selamat jalan polisiku selamat jalan sahabtku. Beruntung pagi itu juga saya bisa melihat pelepasan almarhum di Mapolres Bukittinggi. Ya Allah, engkaulah penghapus dosa. Hapuslah dosanya. Amminn..




Akhirnya sekian lama menunggu, pengkajian kebutuhan pasca bencana (Jitu Pasna) bagi jurnalis dan media informasi cetak serta  elektronik di gelar juga oleh BPBD Sumatera Barat di Hotel Grand Rocky Bukittinggi.

Pada acara bimbingan teknis ini, sebanyak 90 jurnlis di Sumatera Barat dibekali ilmu tetang kebencanaan dan menariknya juga, BPBD Sumbar mendatangkan uda Yuliandre Darwis dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) Pusat.


Bimtek Jitu Pasna ini dilaksanakan selama empat hari dimulai 30 Oktober sampai 2 November 2019 dan Alhamdulillah, aku mengikuti acara dengan hikmat sampai saat ini.

Apa itu Jutu Pasna?


Jitu Pasna adalah suatu rangkaian kegiatan pengkajian dan penilaian akibat, analisis dampak dan perkiraan kebutuhan yang menjadi dasar bagi penyusunan rencana aksi rehabilitasi dan rekonstruksi.


Menurut saya ini. acara ini sangat bagus sekali untuk jurnalis, mengingat sejumlah daerah di Indonesia khususnya Sumatera Barat rawan bencana. Nah, jurnalis harus mengetahui hal tersebut mulai dari :
1. Pra bencana.
2. Saat terjadi bencana
3. Pasca bencana. 

Tiga poin tersebut dipaparkan dengan baik, kemudian perserta bimtek Jitu Pasna dibentuk tiga kelompok, membahas tantangan apa yang dialami jurnalis saat melakukan peliputan di mulai dari tiga poin di atas.


Selain pemaparan materi dan diskusi, BPBD Sumbar juga memberikan pelatihan secara langsung ke lokasi  yang rawan bencana tersebut, diantaranya ke Pangkalan dan Situjua Gadang. Sementara aku, masuk kedalam kelompok satu yang rutennya ke Pangkalan di Kabupaten 50 Kota. Tentunya acara ini sangat paling menarik bagiku. 




Mas,  Irvan Imamsyah Muznir, Supervising Assigment Editor CNN Indonesia sedang serius perhatikan saya sedang menjelaskan sesuatu.

Sudah hampir tiga bulan lalu, aku benar-benar lupa nulis tentang asiknya mengikuti Workshop on Human Rights Reporting Aliansi Jurnalist Independent  (AJI) Padang yang bekerjasama dengan Internews dan Kedutaan Belanda. 

Acara  berbagi seputar ilmu  jurnalistik serta teknik peliputan HAM, menjadi topik menarik pada saat itu yang diikuti lebih 30 jurnalis diberbagai media di Sumatera Barat. Termasuk aku dari TVRI Sumatera Barat. 


Workshop on Human Rights Reporting ini dilaskanakan selama tiga hari di Hotel Bunda Padang, dan alhamdulillah aku mengikuti dengan hikmat. 

Kak Shinta dari Tempo dan mas  Irvan Imamsyah Muznir, Supervising Assigment Editor CNN Indonesia. Kemudian yang paling tua, Om Willy Pramudya dari Majelis Etik Nasional AJI Indonesia, beliau juga warta Jakartapost menjadi mentor kami selama tiga hari itu.

Selain tiga pemateri yang kaya pengalaman ini, AJI Padang juga mengundang Wakil Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Padang, Indira Suryani. Kemudian uda Abraham, Ketua National Paralympic Commite (NPC) Padang dan Arief Paderi, Perkumpulan Integritas.

Kendati tiga hari, aku berhasil menangkap banyak ilmu dari ketiga pemateri ini, seputar kegagalan pemerintah dalam menanggani kasus HAM di Indonesia. Seperti, pembakaran hutan, tambang batu bara dan sebagainya.

Aku memang tergila, membuat berita indepreporting (liputan mendalam), tentang peristiwa pelanggaran HAM yang terjadi disejumlah daerah di Sumatera Barat. Sayangnya karena kendala waktu, hingga saat ini aku belum ada membuat berita yang mendalam tentang kasus HAM.

Singkat cerita, pada awal September kemarin, salah seorang panitia dari AJI Pusat menghubungi saya via whatsapp, untuk mengirimkan link liputan tentang HAM sesuai yang ditugaskan pasca acara Workshop on Human Rights Reportin.  

Ah, tapi aku tak membalas pesan singkat itu, karena mamang belum ada membuatnya. Tak lama setelah itu, panitia AJI Pusat kembali menghubungi saya, untuk mengirimkan link berita saya yang terbit di situs online TVRI Sumbar, tentang aksi demo mahasiswa UMSB Bukittinggi di depan gedung DPRD Bukittingg.

Aku sih gak menyangka, berita demo tersebut, masuk kategori liputan HAM, dan alhamdulillah, tugasku selesai. Bukan berarti saya abai dalam tugas, karena liputan mendalam tentang isu HAM tidaklah mudah, kerana membutuhkan riset yang mendalam. Selain itu, tidak semua media yang bisa menerbitkan berita tentang HAM, apalagi seputar pelanggaran pemerintah, dan saya yakin inilah delema jurnalis media pemerintah saat ini, tentang peliputan kasus HAM di Indonesia.
Dua pekan ini, cerita misteri KKN di media sosial twitter sangat populer, mulai dari kalangan biasa hingga selebritis.Cerita atau kenangan semasa melaksanakan Kuliah Kerja Nyata atau KKN akan selalu tersimpan dalam memori mereka yang telah menunaikan hajatan kampus tersebut. Salah satunya saya, alumni Jurusan Komunikasi Penyiaran Islam, Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi, UIN Imam Bonjol Padang, yang ber KKN di Koto Alam, Kecamatan Palembayan, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.

Di Jorong Koto Alam, kami ada lima orang mahasiswa/i UIN Imam Bonjol ber KKN,diantaranya, Zeko, mahasiswa Fakultas Ushuluddin, Ria dan Dila, mahasiswi Fakultas Tarbiyah, Lia dan Jumadi, dari Fakultas Syariah dan saya dari Fakultas Dakwah dan Ilmu Komunikasi.


Selama ber KKN, kami tinggal di rumah Pak Jorong atau Pak RT Koto Alam. Alhamdulillah disambut dengan baik disana. Program-program kami ya sama dengan mahasiswa KKN pa da umumnya. Namun dari banyak kegaiatan ada satu program kami yang sangat berkesan, yaitu membuat name box besar salah satu masjid disana.


Nah, saya sih gak cerita soal program-program KKN disana. Namun balik pada topik atau judul blog ini, tetang misteri yang saya alami ber KKN di Koto Alam.


Suatu pagi, rumah pak jorong berubah suasana, dimana terjadi insiden kecil di rumah tangga pak jorong. Saya sih gak tau masalahnya apa, antara pak jorong dengan buk jorong. Pokoknya ada masalah rumah tangga gitu. 


Nah malamnya, saya ditawarin pak jorong, temeni beliau ke Pasaman. Kemudian saya terima, dan dimalam itu langsung berangkat. Selama perjalan saya bertanya ke pak jorong soal tujuan ke Pasaman. Namun pak jorong tidak menjawab dengan serius.

Sampai di lokasi, kami berhenti di sebuah kebun sawit. Suasana mualai berubah, tubuh saya mulai gemetar, akan kegelapan. Bebarapa menit kemudian, kami berhenti di sebuah gubuk. Pak jorong langsung ucapkan salam dan langsung masuk ke gubuk itu. 

Saya masih berdiri di luar, mencoba menjinakkan anjing yang menyalak kami. Kemudian berlahan-lahan saya mencoba masuk kerumah itu, saya hanya melhat dua lilin putih menerangi kami.


Aroma kumanyan, mulai menyapa hidungku. Kerigat mulai membasi wajah. Saya melihat pak jorong sedang menerima sesuatu dari pemilik rumah, untuk dibawah pulang. Tak lama setelah itu, kami pun pamit pulang ke rumah. 

Selama perjalanan  pulang, saya tidak bertanya maupun cerita kepada pak jorong. Kami berdiam -diam saja.


Tiba di rumah, teman-teman saya sudah tidur. Kemudian pak jorong mengajak saya pergi ke dapur. Kemudian saya ubujmelihat memasukin pemberian dari pemilik rumah gubuk tadi kedalam kuali yang berisi gulai.


Saya pikir itu racun, tak lama setelah itu, pak jorong mulai cerita pelan-pelan. "Ini obat, agar Ibu Jorong bisa semakin cinta padanya".

Nah, baru saya tau, Ternyata itu sejinis obat pakasieh  atau obat dimana perempuan bisa tunduk pada laki-laki. Tapi menurut saya itu tidak baik dan dilarang oleh agama. Saya mulai gelisah hingga pagi, dan tidak mau makan dirumah tersebut.


Hari raya Idhul Adha, topik penceramah di seluruh sentero dunia, membahas seputar kehidupan nabi Ibrahim As. Cerita nabi Ibrahim memang sangat unik dan bermanfaat dibahas setiap hari raya Idhul Adha, sebagai pedoman dalam melaksanakan kehidupan yang penuh dengan kesabaran.


Salah satu hikmah yang dipetik dari cerita Nabi Ibrahim adalah seputar kekuatan imannya kepada Allah SWT, yang berdoa selama 86 tahun agar di anugrahi keturunan.  Selain itu, Nabi Ibrahim juga sabar dalam mengahadapi tingkah ayah kandungnya sendiri yang tidak seiman dengan nabi Ibrahim As.

Bahkan, Nabi Ibrahim As diancam ayahnya untuk dibunuh, karena terlalu sering mengingatkan untuk menyebah berhala. Kendati demikian, Nabi Ibrahim tetap mencintai ayahnya dan berdoa kepada Allah, agar dosa ayahnya diampuni.


Selama 86 tahun berdoa agar dianugrahi keturanan yang saleh, akhirnya doa Nabi Ibrahim As dijabah dan mendapatkan keturnan bernama Nabi Ismail As.

Nabi Ibrahim As sangat mencintai anaknya. Namun Allah SWT, berkehendak lain, agar Ismail untuk disemblih. Meskipun pahit dan takut, Ibrahim menceritakan hal tersebut kepada nabi Ismail yang pada saat itu masih kecil.

Ismail memang anak yang saleh dan patuh pada orangtua. Ismail mengaminkan cerita nabi Ibrahim untuk di sembelih. Meskipun nabi Ibrahim sangat cemas dan takut akan kehilangan putra kesayangannya.

Pada saat penyemblihan, Allah SWT menggantikan jasad Ismail dengan seekor kambing dan pada saat itu Ismail langsung berdiri di samping Ibrahim As. Allah memang maha kuasa atas segalanya.

Dari kisah singkat diatas, bisa diambil kesimpulan bahwa kita harus sabar dalam melaksanakan perintah dari Allah SWT.  Maka berqurbanlah agar kita termasuk orang-orang yang sabar dan mentaati perintah Allah SWT.

Semoga bermanfaat.
Assalamualaikum wr wb.

Kutipan ceramah Ustad Zaki pada hari Raya Idhul Adha di Masjid Jami' Mandiangin Kota Bukittinggi.



Berenang ke Indonesia

Sepenggal cerita menarik dari perjuangan hidup salah seorang WNA asal Uganda yang melarikan diri, dari negaranya ke Indonesia, ia adalah Abdul Rashid Mitala. Abdul Rashid adalah seorang pria yang terancam di Uganda, kemudian mencari kapal logistik dan menumpang berlabuh ke Indonesia.

Selama berhari-hari menahan lapar di atas kapal, akhirnya Abdul sampai di laut Indonesia bagian barat, tepatnya di kawasan perairan Provinsi Sumatera Utara.

Takut ditangkap, Abdul yang tidak memiliki dokumen lengkap ini terjun dari kapal yang ditumpangi dan berenang ke bibir pantai Sumatera Utara, kisaran 500 meter. Sesampai di pantai, Abdul mengakui ia menumpangi sebuah truk menuju Jakarta.

Singkat cerita, mutiara hitam asal Afrika ini sampai di Jakarta. Kemudian mendaftakan diri ke UNHCR, meminta perlindungan diri.

Daftar UNHCR


Nasib baik berpihak kepada Abdul, ia terdaftar di UNHCR perwakilan Jakarta. Tak lama setelah itu, tepat pada 10 Januari 2019, dokumen Abdul tidak lagi aktif sebagai pencari suaka di Indonesia.

Seiring dengan itu, Abdul memang warga yang taat melaksanakan ibadah, ia ikut dengan jamaah tablig di Jakarta, hingga sampai ke Jogja. Pengakuan Abdul ia sudah menikahi wanita janda asal Jawa di buktikan dengan surat nikah.



Cari Kerja ke Agam, Sumatera Barat

Merasa sudah banyak teman, Abdul mulai mencari kerja yang pada saat itu ia terima tawaran dari teman sama sepengajian. Kemudian Abdul dibawa ke Nagari Gadut, Kecamatan Tilatang Kamang, Agam, Sumatera Barat. Ia bekerja di ladang milik Arafiq, namun warga setempat mulai curiga, pasalnya Abdul memang terlihat berbeda.

Kemudian warga setempat melaporkan hal tersebut kepada anggota Kodim 0304 Agam, dari sana, Abdul juga di laporkan ke Kantor Imigrasi Kelas II non TPI Agam.

Setelah dicek, ternyata Abdul memang WNA yang tidak memiliki izin tinggal di Indonesia. Tak lama berselang waktu, Abdul ditahan di Kantor Imigrasi kelas II Non TPI Agam pada 21 Maret 2019.

Ditangkap Kantor Imigrasi Agam 

Lesu dan tak berdaya, Abdul mulai berurusan dengan hukum di Indonesia. Abdul terbukti bersalah hingga di tahan. Kemudian Abdul dikirim ke Riau, namun hal tersebut tidak jadi, mengingat Abdul harus menyelesaikan masalahnya di Kantor Imigrasi Agam.

Selama empat bulan di tahan, akhirnya Abdul menghirup udara segar setelah mendapatkan kabar akan dipulangkan ke kampung asalnya.

Pengurusan kepulangan Abdul setelah  Kantor Imigrasi membantu mengurus surat pemulangan suka rela, melalui IOM.

Pulang Gratis ke Uganda

Meskipun terbilang lama pengurusannya, tepat pada 7 Agustus 2019 kemarin, Abdul Rashid bisa pulang kampung halamannya yang di bantu oleh IOM beserta ongkos pesawat dari Bandara Soekarno Hatta dan akan transit di Arab, sebelum ke Uganda.


Selamat kepada Abdul Rashid Mitala, bisa menempuh perjalanan panjang menikmati proses kehidupan tampa putus asa. Semoga disambut dengan baik di kampung halaman dan tidak mengulangi kesalahan.

Selamat bertemu dengan keluarga disana. Terimakasih IOm telah melindungi Hak Azazi Manusia di tingkat dunia.





Indonesia secara keseluruhan, memang menyuguhan alam yang indah, begitu juga dengan kekayaan adat dan kulturnya. Salah satunya Bukittinggi. Kota Bukittinggi berada di Provinsi Sumatera Barat, Indonesia. Bukittinggi adalah kota kecil dengan luas 25 Km per segi yang menyimpan sejuta cerita menarik traveler dunia. Pasalnya Kota Bukititnggi terdapat pemandangan indah seperti, Ngarai Sianok, yang saat ini masuk kedalam dalam daftar Geopark Nasional.

Tak hanya itu, keindahan ngarai Sinok juga dilengkapi dengan kemegahan dua gunuang, diantaranya Marapi dan gunuang Singgalang.


Di Bukittinggi terdapat banyak peninggalan bersejarah dari pemerintah Belanda seperti, Jam Gadang dan Benteng For De Kock.



Nah, Jam Gadang salah satu aikon koto wisata Bukittinggi, yang wajib dikunjungi.


500 meter dari Jam Gadang, terdapat Taman Panorama yang kaya akan sejarah, di kawasan ini terdapat "Lobang Jepang", tempat persembunyian dan pertahanan tentara Jepang saat menjajah Indonesia.



Salah seorang traveler dari American Society of  Travel Advisor, membenarkan, bahwa ia dan rekannya sangat kagum akan keindahan panorama alam Kota Bukittinggi dan juga kaya akan sejarah.




Jika aku mati, besar harapan aku dimatiin dilungkungan orang hebat. Begitulah pentingnya orang hebat dalam kehidupan ini. Orang hebat memberikan perubahan kearah yang baik dalam menjalankan proses hidup. Maka taatkala itu aku ingin pergi sejauh-jauhnya mencari orang hebat untuk menimbah ilmu. Kota Padang, adalah kota yang cukup jauh dari kampung halamanku, bahkan diwaktu SMP pun aku bermimpi bertemu orang hebat di Kota Metropolitan pada masa pemerintahan Hindia Belanda itu.

Kota Padang memiliki cerita menarik untuk kita simak, bukan hanya soal percintaan Sitinurbaya dengan Samsul Bahri. Kota Padang juga disebut kota sejarah bagi semua orang. Berjuta kenangan tersimpan yang tak akan pernah terhapus oleh zaman. Kota Tua Padang menjadi tujuan aku menikmati cerita silam dimasa lalu. Kebutulan aku bernasib baik, lulus pada seleksi Devisi Dokumentasi Komunitas Padang Heritage. Komunitas Padang Heritage memiliki visi dan misi yang hebat, mengungkit sejarah gedung Tua Kota Padang dan memberikan edukasi kepada masyarakat luas Kota Padang agar mengenali lebih dalam literatur Kota Padang pada zamandulunya.

Kelenteng See Hing Kiong merupakan tempat titik kumpul kami sebelum menyusuri sudut-sudut Kota Tua Padang. Kota Tua Padang terletak di Kecamatan Padang Selatan. Kota Tua Padang adalah kota yang wajib untuk dilalui pariwisata. Saat ini, menyusuri Kota Tua Padang sangat mudah dan nyaman. Karena Pemerintahan Kota Padang sudah menyediakan bus untuk mengelilingi kawasan sejarah itu.

Aku salah satu dari 20 orang pengurus Komunitas Padang Heritage melaksanakan pertemuan pertama di area parkiran Kelenteng See Hing Kiong untuk membahas acara Padang Heritage Walk 7 pada bulan April 2018 mendatang. Jelang pelaknaan acara,kami melakukan hanting dibeberapa tempat di Kota Tua Padang. Karena ini adalah hari pertama kami melakukan  perkenalan satu persatu. Secara langsung saya melihat, bahwa aku berada di tengah orang hebat. Ya, saya kagum dengankreatifitas Uda Ubay pendiri Komunitas Padang Heritage. Ia dengan gagahnya menjelaskan satu persatu sejarah gedung tua Kota Padang. Alumni Universitas Bung Hatta ini, berhasil menarik hati saya untuk lebih dalam mengenali sejarah Kota Padang.


Dari Kelenteng See Hing Kiong kami melanjutkan perjalanan ke bekas gedung Bank Padangsche Spaarbank yang berdiri sejak tahun 1908.Usai menikmati pecerahan dari ketua Komunitas Padang Heritage yang super sabarnya dalam menjabarkan sejarah Kota Tua Padang. Kemudian kami melanjutkan perjalanan menuju titik nol Kota Padang. Saya sempat kaget, ternyata titik nol Kota Padang berada dikawasan Kota Tua Padang. Aku berdiri diantara gedung-gedung tua itu menikmati keindahan, ternyata tanpa disadari aku sudah beridiri dititik nol Kota Padang menurut versi Uda Ubay. Aku sich yakin aja, kalau disana letak posisi titik nol Kota Padang. Titik nol maksudnya,lokasi pertama pembagunan Kota Padang.
Mungkin sahabat pembaca sanereh sedikit penasaran, berkah malam Minggu bagaimana yang aku nikmati saat ini. Ha…. malam Minggu adalah malam yang ditunggu-tunggu kaum Adam, ya begitulah yang terjadi pada diriku hari ini. Malam Minggu yang bersajarah, tapi jangan mikir bahwa aku mojok, ha..ha.

Disaat adzan Magrib berkumandang di sudut negeri Sarang Gagak, Kecamatan Anduriang. Aku saat itu sedang menumpang hidup di salah satu kos-kosan teman sejawat di kampung halaman. Tepat ini hari ini, Sabtu 10 Maret 2018 aku sudah hijrah dari gedung IKPS di Jati Baru Padang. Bukan tidak lagi betah tinggal disana, di baskem dengan warna laut ini aku menunggu hari resepsi kebahagian. Dimana hari itu adalah hari yang di tunggu-tunggu selama empat tahun berkuliah di UIN Imam Bonjol Padang. Alhamdulilliah pada 22 Februari 2018 lalu aku berhasil menyelesaikan ujian munqasah dengan hasil memuaskan dan Insyaallah pada April 2018 mendatang dilaksanakan resepsi wisuda yang akan di hadiri Presiden Republik Indonesia, Ir. Joko Widodo.

Usai melihat senyum sumringah teman aku yang super gantengnya, ia sedang menikmati chat kemesraan dengan pasangan LDR nya. Pada saat itu juga aku melihat status Whatsapp Debi Jumara Putra. Ia teknisi computer di UJ Komputer di Lubuk Buaya Kota Padang. Aduch….aku tidak bisa menceritakan rasa kaget itu, ia mengunggah status “kelulusan” aku pada seleksi anggota Komunitas Padang Heritage. Aku benar-benar lupa, kapan aku mendaftar. Ya sudahlah aku lupain dulu soal itu, aku mau menikmati sedikit kebahagian ini dan berbagi dengan sahabat semua pada blogger yang ganteng ini.

Padang Heritage salah satu komunitas yang memuat banyak konten-konten edukasi dalam bidang penulisan dan video documenter yang diekspos melalui media cetak maupun media sosial. Komunitas ini di kelolah oleh anak-anak muda di Kota Padang yang menyukai sejarah. Salah satu membuat aku penasaran dengan komunitas ini, dengan usia yang terbilang mudah Padang Heritage sudah melahirkan karya-karya yang patut di apresiasi oleh Pemerintah Kota Padang. Kecintaan pada sejarah memang harus ditanamkan kepada generasi muda. Mengenang sejarah adalah sautu yang wajib bagi saya. Karena dari sejarah tersebut kita bisa belajar untuk lebih baik maupun menambah pengetahuan.

Alhamdulillah, Padang Heritage memberikan kesampatan kepada aku pada devisi domuntasi. Semoga wadah ini bisa menambah pengetahuan dan memperluaskan jaringan persahabatan di dunia juralistik. Sekian dulu ya sahabat kabar bahagia ini, semua bahgiannya aku juga bahagian kalian semua.


Sarang Gagak, 10 Maret 2018